Tuesday, April 27, 2010

selepasnya sebebasnya ..


Tanggal 26 April 2010 itu adalah hari bersejarah bagi seluruh siswa kelas 3 SMA termasuk aku. Aku yakin malam sebelum hari itu siswa kelas 3 di seluruh penjuru Indonesia merasakan guncangan hati yang pastinya membuat gak enak tidur. Ya! Tepat sekali itu namanya degdegan.

Pengumuman itu harus kami dengar. Aku sendiri tidak mempermasalahkan harus dimana dan bagaimana proses penerimaan pengumuman itu berlangsung. Aku hanya berfikir bagaimana caranya pengumuman itu bisa ada di tanganku. Mau di sekolah, mau di rumah wali kelas, mau di rumah temen sekelas, itu bukan masalah bagiku. Yang penting aku tahu aku lulus atau harus mengulang. Huuft ... kalo udah ngebahas yang mengulang, aku paling gak tega. Tapi aku rasa aku harus berbagi ini.

Ada yang ngesms ke nomor hape aku, kalo siswa siswi di sekolahan ku harus kumpul di suatu tempat untuk membicarakan tentang kelulusan. Aku sendiri pada waktu itu gak dateng, karena aku pikir ini bukan saatnya melakukan hal yang tidak tidak. Aku yang saat itu mempunyai bad feeling merencanakan untuk diam di rumah dan memikirkan caranya agar hatiku tenang. Tidak dapat dipungkiri. Akupun sama dengan temen2 yang aku kasih semangat. Aku TEGANG.

Ternyata kumpulan itu memang kumpulan yang menurutku tidak usah dilakukan.

Esoknya aku pergi ke sekolah untuk memastikan apa saja yang akan terjadi disana. Tidak seperti dugaan ku, rencana yang dibuat sebelumnya rapih dan tidak menimbulkan kekacauan ataupun kericuhan dari pihak manapun. Hanya saja suasana yang saat itu memang TERUS MEMANAS. Sudahlah aku tak ingin membahasnya! Aku ingin kelulusan segera berada di tangan ku.

Dan segala pihak mengalah, didinginkan oleh seorang temanku yang mewakilakan semua siswa yang berada dalam tempat itu. Dia dengan tulus menghaturkan maaf seolah olah itu benar benar merupakan perkataan yang ingin kami ungkapkan. Dan saat itu, aku sempat berfikir ternyata anak yang biasanya tidak punya malu, ternyata mempunyai keberanian untuk melakukan hal sebijak itu. Aku tarik semua perkataan ku. Dan aku pun ikut dia memeluk kedua guruku yang berada tepat di depan kami semua.

Keputusan kelulusan tetap berada di tangan wali kelas masing-masing. Mau diadakan dimanapun terserah! itu kata kepsek di sekolahku.

Aku dapat kabar bahwa kali ini sekolahku tidak lulus seratus persen seperti tahun tahun sebelumnya. Tahun ini ada 5 siswa yang dinyatakan mengulang. Bayangkan, 5 orang!! AKu sendiri panik, siapa mereka dan apa aku ada diantara mereka.

Beruntungnya nasib aku, sebelum dibagikan kelulusan aku sudah tahu, bahwa aku tidak mengulang. Tapi bebarengan dengan hal itu aku juga mendengar salah satu teman di jurusan kelasku ada yang HARUS MENGULANG. Hatiku sungguh terpukul. Kenapa harus dia? Orang yang akhir akhir ini aku baru dekat denganku. Orang ya akhir akhir ini bisa bikin aku ketawa. Aku terkejut dan terus memikirkan bagaimana caranya membuat hati dan jiwa raga dia dapat menerima kenyataan pahit ini dengan lapang. Ku tekadkan dalam hati, AKU DAPAT MENNYEMANGATINYA. Semua teman teman yang berada di rumahku panik, orang yang mereka prediksikan ternyata tepat. Kami menginginkan waktu cepat berlalu dan bergilir pada hari esok. tanggal 26 April 2010.

Dan ternyata AKU TIDAK BISA TIDUR. fyuh.. semuanya tidak semudah yang aku bayangkan. Aku paksa diriku untuk memejamkan mata. Dan tak terasa bel alarm di HP ku berbunyi begitu kencang tak sekencang biasanya. Entah hanya perasaanku atu memang volumenya yang membesar dengan sendirinya. Memikirkan hal itu, aku malah ingin tertawa. Aku beranjak dari tempat tidurku. Bersiap siap untuk mengambil selembar kertas yang menentukan masa depanku. hha, lebay..

Seperti biasa semuanya aku lakukan seperti biasa. Berangkat sekolah dengan tidak sarapan terlebih dahulu, hanya berbekal cium tangan seorang ibu. Aku berangkat tidak terlalu pagi. Jam tujuh baru berangkat dari rumah. AKu tidak ingat hari ini hari Senin, hari dimana siswa sekolah harus melaksanakan upacara bendera. Seturunnya aku dari angkot aku di sambut teman lamaku, teman satu SMP. Ia menanyakan tentang bimbingan belajar yang aku lakoni. Bebarengan dengan itu, mataku tak berhenti mencari. Terus berputar, dan akhirnya......... aku menemukan orang itu. Orang yang tadinya aku kira tidak akan datang k sekolah ternyata datang. Dengan wajah pucat, dia sama sekali tak menyapaku. Tak membuatku tertawa. Tidak sama sekali. What`s goin` on?? Aku bertanya pada diriku sendiri. Aku menangkap matanya sedang melihatku. Tapi sekejap aku merasa kehilangan keramahannya. Dia langsung mnyalakan motornya dan meninggalkanku tanpa sekata apapun.

Dia itu sahabat, sahabatku. Aku merasakan perih yang sama dengan perih yang sahabat aku rasakan. Lagi lagi mataku berputar, terus mencari. Aku ingin menyampaikannya pada sahabatku. Selepas dia pergi dengan motor gedenya, aku serentak meminta ijin pada teman lamaku, ada sesuatu yang harus aku selesaikan. Dan aku bergegas pergi ke tampat yang teman sekelasku janjikan .. MESJID.

Ya. Di lingkungan mesjid banyak banget siswa kelas XII yang nganggur, kulantang kulinting. Ada salah satu temanku yang langsung memelukku. Dia berbisik ke telingaku, "aku tegang, berita siswa yang harus mengulang sudah menyebar, aku takut itu aku" bisiknya. Dengan menarik nafas aku mengusap pundaknya. Tenang saja, kita pasrahkan semua-Nya kepada Allah swt. Biar Ia yang mengaturnya. Sementara itu mataku terus mencari. Dari ujung hingga ke ujung aku belum melihat sosok sahabatku. Sebelum temanku melepaskan pelukannya, anak anak sudah banyak yang menghampiriku. Intinya mereka meminta info tentang kelulusan ini. Aku hanya bisa tersenyum kecil. Dan itu aku wakilkan sebagi jawabanku.

Dan ketika aku melihat pintu mesjid depan yang terbuka, seketika itu hatiku mengatakan bahwa sahabtaku ada disana. Tepat! Dia disana. Tapi aku jadi tak berani menghampirinya. Ia terlihat sedang mengobrol dengan rekan satu band nya. Aku tak ingin mengganggunya. Dan aku rasa dia tahu tentang berita buruk ini.

Seusainya kumpulan dengan kepala sekolah, wakil kepala sekolah, kaur kesiswaan, guru BK, aku merasa malu terhadap angkatanku. Berani beraninya melakukan hal seperti ini. Hmmmph, aku berharap kedepannya tidak berefek buruk untuk pihak manapun.

Aku melihat sahabatku sedang berbincang dengan Fitra, aku memeberanikan diri untuk menghampirinya, dan ikut gabung mengobrol dengan mereka. Seperti yang aku duga, dia sudah mengetahuinya. Begitu kecewanya kami. :'(

Campur aduk perasaanku. Degdegan, sedih, seneng.. Semuanya ada.
Aku harus begegas ke rumah wali kelas ku untuk mengambil kabar kelulusanku. Di perjalanan aku jalan dengan Angga, aku memutuskan untuk menemui sahabat sahabatku, seusai pembagian kertas kelulusan. Dengan nilai yang tertinggi yang aku dapatkan di kelas, aku tidak merasa bahagaia. Mungkin hanya sedkit perasaan itu di hatiku. Yang jelas aku sedih! Tidak tahu apa yang harus aku lakukan. Angga memberi kode kepadaku. Dengan begitu, posisiku yang asalnya duduk manis dengan wajah termenung, langsung bangun dan beranjak masuk kedalam rumah untuk menghampiri wali kelasku.

"Bu, saya ijin, saya tidak bisa ikut acara lebih lama. Saya ingin kerumahnya." Dengan perkataan ku begitu walikelas ku mengerti, tapi ia sempat melarangku, karena ia menyayangkan ketidakhadiran ku di acara kelas yang teman teman ku adakan. Akupun sedih akan hal itu. Tapi aku harus memilih. Aku meminta maaf dan aku meilih menemui sahabat, sahabat yang sekarang sedang di rumah sendiri. Sedangkan teman-temanku mungkin bisa bersenang senang, karena semuanya lengkap ada disini.

Dengan meminjam hape dan meminta pulsa kepada teman sekelasku, aku menghubungi sahabatku. (Miskin sekali aku, karena saat itu, aku tak pegang hape dan pulsa pu tak punya.) Aku kasih kabar pada sahabatku, kalau aku siap untuk berangkat. Ternyata di kelasnya lebih susah mendapatkan ijin. Dengan terpaksa kami yang harus menghampirinya. Ya. Sesuai rencana. Kita bisa berangkat sama sama.

Hmmph, di perjalanan kita memikirkan apa yang harus kita perbincangkan pertama kali ketika harus berhadapan langsung dengannya. Sahabatku dengan spontan menyuruhku untuk mengawali perbincangan. Jawabku singkat, "gimana nanti aja ya, kita sesepontanan we." Mereka serentak tertawa. Syukurlah, ketegangan dan kegalauan kita sedikit tertutupi. Sahabatku yang menghubungi dia. Positif, dia ada di rumah. Sekejap aku menghelakan nafas, bersyukur.

Setelah dua kali naik mobil, dan hampir sampai ke gang rumahnya, kami bertiga di ditirunin sama mang supir. Dengan terpaksa harus jalan kaki. Dan, sebelum sampai ke gang nya, dia sudah ada dengan motor gedenya. Aku bingung, apa yang harus aku lakukan, aku mengangkatkan tanganku dan memberinya dia hormat seraya mulutku mengucapkan HELLO. Sapaan awal yang buruk bagiku. Tapi tak masalah.

Dia memnita ijin kepada kami meminta waktu sebentar untuk menjemput pacarnya yang tengah menerima kelulusan juga. KAmi bertiga hanya duduk menunggu. Tak lama dia datang, dan menyuruh kami naik dan menghampiri rumahnya. Yaaaaaaaaa........semuanya tak sesulit yang kami kira. Kami banayk mengobrol dan dia pun tak serapu yang aku kira. Bukan kami yang membuatnya dia tertawa tapi malah dia yang bikin kami tertawa. Kami senang di hari ini. Kami saling membagi pengalaman hidup. Tak ada masalah yang tak dapat manusia pecahkan. Kami percaya di balik kesulitan pasti ada kemudahan. =D

Hari ini, aku memulai lembaran baru. Aku berfikir rasional dengan apa yang selama ini aku lakukan. Dan hari ini juga awal aku dekat lagi dengan sahabatku. Aku dan sahabatku telah dipisahkan waktu yang cukup lama. Tak pernbah bertegur sapa ataupun berkomunikasi. Tapi hari ini hari yang berbeda. Mudah mudahan ini merupakan awal lembaran baru kita. Untuk dia sahabat sahabatku, Angga, sahabatku dan diriku sendiri.

Aku ingin memulai semuanya dengan baik. Kita mulai dari nol. Aku harap sahabat ku bisa terus biasa kepadaku. Amin.

I wish our friendship neverdie. I luph u all .. thanks for all.. :D

ditulis:
menjelang tanggal 27 April 2010

tashin otinab

1 komentar:

tashin otinab | May 12, 2010 at 8:55 AM

ini udah menyangku tentang dia . tapi perasaan ku tak sebesar dulu . aku sendiri gak tau sampai kapan bisa bertahan . yang jelas aku masih pengen terus biasa .

Post a Comment